Sebuah kisah menakjubkan terjadi di sebuah pengadilan. Air mata Hizan al-Fuhaidi bercucuran membasahi janggutnya yang lebat. Karena putusan hakim telah memenangkan seterunya di pengadilan. Seteru yang tak lain adalah saudara kandungnya sendiri.
Silahkan tebak apa yang telah ia perjuangkan sehingga harus bersaing dengan saudara kandungnya di meja hijau? Silahkan Anda kira-kira apa yang sudah mereka perebutkan di pengadilan? Tanah, rumah, warisan? Ini yang bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka ke pengadilan karena berebut merawat ibu mereka yang sudah renta.
Mungkin ada yang bertanya, "Mungkin sang ibu punya warisan banyak kali sehingga mereka berdua berebut merawat ibunya agar warisan bisa mereka kuasai?" Tidak! Sang ibu tak memiliki harta sepeser pun. Yang ia punya hanya sebuah cincin timah yang menempel di jemarinya yang telah mengeriput.
Selama ini sang ibu hidup bersama Hizam di sebuah perkampungan. Hizam yang tiap hari merawat dan menjaga ibunya dengan penuh kasih sayang. Ketika sang ibu telah menua, sang adik yang selama ini tinggal di kota tiba-tiba datang dan mengajak sang ibu tinggal bersamanya. Alasan sang adik juga mulia, ia mengajak sang ibu karena fasilitas kesehatan di kota yang lebih memadai daripada di desa tempat tinggal Hizam.
Namun Hizam menolak permintaan itu dengan alasan ia masih mampu merawat dan menjaga sang ibu dengan baik. Perseteruan kakak beradik ini pun pada akhirnya berlanjut hingga ke pengadilan. Sidang demi sidang tela dilalui, tapi tak kunjung menemukan titik kesepakatan. Hingga akhirnya hakim meminta agar sang ibu dihadirkan ke pengadilan.
Kakak beradik ini pun membopong sang ibu yang sudah renta secara bersama-sama ke pengadilan. Sang hakim pun mengajukan pertanyaan padanya tentang siapa yang lebih berhak untuk tinggal bersamanya. Sang ibu pun menjawab, "Dia", sambil menunjuk ke arah Hizam, "adalah mata kananku. Dan dia", sambil menunjuk ke arahnya adiknya Hizam, "adalah mata kiriku." Sang hakim pun berpikir sejenak, kemudian memutuskan yang berhak merawat sang ibu adalah adiknya Hizam, dengan alasan kemaslahatan bagi sang ibu yang telah renta.
Air mata Hizam pun tak tertahankan. Air mata seorang anak yang sangat ingin mengabdikan dirinya untuk merawat sang ibu yang sudah tua. Air mata penyesalan karena tak diberi kesempatan mendampingi hari tua ibundanya yang sudah tak bertenaga. Air mata yang mulia, air mata yang keluar karena rasa kecewa, merasa tak bisa membuktikan bakti secara nyata.
Andaikan saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibu tersebut, hanya satu yang akan saya tanya, bagaimana cara ibu mendidik putra-putra ibu sehingga bisa menjadi putra yang begitu cinta kepada bundanya. Bagaimana cara ibu mengajar kedua anak tersebut sehingga keduanya menjadi anak yang penuh bakti kepada ibunya. Di saat di belahan bumi yang lain, panti jompo makin sesak oleh para orang tua yang dirasa merepotkan hidup anaknya. Di saat di belahan bumi yang lain para anak justru merasa tertekan ketika diminta untuk merawat orangtuanya. Masih ada manusia yang begitu sayangnya kepada ibunya, saat di tempat lain kedurhakaan sudah menjadi budaya.
Ada sebuah cerita menarik. Konon di Jepang pernah ada tradisi membuang anggota keluarga yang sudah renta, yang tidak berdaya, dan sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa ke tengah hutan. Suatu hari ada seorang pemuda yang hendak membuang ibunya yang sudah sangat tua, jompo, dan mulai pikun, sehingga dianggap hanya merepotkan kehidupan sang pemuda tadi. Pemuda itu pun menggendong ibunya yang tak berdaya itu ke tengah hutan. Sepanjang perjalanan menuju tengah hutan, sang ibu memetik ranting-ranting kering dan menjatuhkannya ke tanah. Ketika tiba di tengah hutan yang amat lebat, pemuda itu amat sedih ketika hendak mengucap kalimat perpisahan. Justru sang ibu lah yang merasa tegar dan menenangkan sang anak, "Nak, aku sangat menyayangimu. Hingga saat ini tak berkurang sedikitpun sayangku padamu. Tadi dalam perjalanan aku sudah menandai jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting pohon. Ibu takut kau nanti tersesat saat pulang. Sekarang ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai rumah."
Mendengar kalimat ibunya, pemuda itu menangis sesenggukan. Ia lantas memeluk ibunya dan menggendongnya kembali ke rumah. Pemuda itu pun dengan ikhlas merawat sang ibu hingga akhir usianya.
-Sebuah tulisan Ahmad Rifa'i Rif'an dalam buku Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati-
Silahkan tebak apa yang telah ia perjuangkan sehingga harus bersaing dengan saudara kandungnya di meja hijau? Silahkan Anda kira-kira apa yang sudah mereka perebutkan di pengadilan? Tanah, rumah, warisan? Ini yang bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka ke pengadilan karena berebut merawat ibu mereka yang sudah renta.
Mungkin ada yang bertanya, "Mungkin sang ibu punya warisan banyak kali sehingga mereka berdua berebut merawat ibunya agar warisan bisa mereka kuasai?" Tidak! Sang ibu tak memiliki harta sepeser pun. Yang ia punya hanya sebuah cincin timah yang menempel di jemarinya yang telah mengeriput.
Selama ini sang ibu hidup bersama Hizam di sebuah perkampungan. Hizam yang tiap hari merawat dan menjaga ibunya dengan penuh kasih sayang. Ketika sang ibu telah menua, sang adik yang selama ini tinggal di kota tiba-tiba datang dan mengajak sang ibu tinggal bersamanya. Alasan sang adik juga mulia, ia mengajak sang ibu karena fasilitas kesehatan di kota yang lebih memadai daripada di desa tempat tinggal Hizam.
Namun Hizam menolak permintaan itu dengan alasan ia masih mampu merawat dan menjaga sang ibu dengan baik. Perseteruan kakak beradik ini pun pada akhirnya berlanjut hingga ke pengadilan. Sidang demi sidang tela dilalui, tapi tak kunjung menemukan titik kesepakatan. Hingga akhirnya hakim meminta agar sang ibu dihadirkan ke pengadilan.
Kakak beradik ini pun membopong sang ibu yang sudah renta secara bersama-sama ke pengadilan. Sang hakim pun mengajukan pertanyaan padanya tentang siapa yang lebih berhak untuk tinggal bersamanya. Sang ibu pun menjawab, "Dia", sambil menunjuk ke arah Hizam, "adalah mata kananku. Dan dia", sambil menunjuk ke arahnya adiknya Hizam, "adalah mata kiriku." Sang hakim pun berpikir sejenak, kemudian memutuskan yang berhak merawat sang ibu adalah adiknya Hizam, dengan alasan kemaslahatan bagi sang ibu yang telah renta.
Air mata Hizam pun tak tertahankan. Air mata seorang anak yang sangat ingin mengabdikan dirinya untuk merawat sang ibu yang sudah tua. Air mata penyesalan karena tak diberi kesempatan mendampingi hari tua ibundanya yang sudah tak bertenaga. Air mata yang mulia, air mata yang keluar karena rasa kecewa, merasa tak bisa membuktikan bakti secara nyata.
Andaikan saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibu tersebut, hanya satu yang akan saya tanya, bagaimana cara ibu mendidik putra-putra ibu sehingga bisa menjadi putra yang begitu cinta kepada bundanya. Bagaimana cara ibu mengajar kedua anak tersebut sehingga keduanya menjadi anak yang penuh bakti kepada ibunya. Di saat di belahan bumi yang lain, panti jompo makin sesak oleh para orang tua yang dirasa merepotkan hidup anaknya. Di saat di belahan bumi yang lain para anak justru merasa tertekan ketika diminta untuk merawat orangtuanya. Masih ada manusia yang begitu sayangnya kepada ibunya, saat di tempat lain kedurhakaan sudah menjadi budaya.
Ada sebuah cerita menarik. Konon di Jepang pernah ada tradisi membuang anggota keluarga yang sudah renta, yang tidak berdaya, dan sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa ke tengah hutan. Suatu hari ada seorang pemuda yang hendak membuang ibunya yang sudah sangat tua, jompo, dan mulai pikun, sehingga dianggap hanya merepotkan kehidupan sang pemuda tadi. Pemuda itu pun menggendong ibunya yang tak berdaya itu ke tengah hutan. Sepanjang perjalanan menuju tengah hutan, sang ibu memetik ranting-ranting kering dan menjatuhkannya ke tanah. Ketika tiba di tengah hutan yang amat lebat, pemuda itu amat sedih ketika hendak mengucap kalimat perpisahan. Justru sang ibu lah yang merasa tegar dan menenangkan sang anak, "Nak, aku sangat menyayangimu. Hingga saat ini tak berkurang sedikitpun sayangku padamu. Tadi dalam perjalanan aku sudah menandai jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting pohon. Ibu takut kau nanti tersesat saat pulang. Sekarang ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai rumah."
Mendengar kalimat ibunya, pemuda itu menangis sesenggukan. Ia lantas memeluk ibunya dan menggendongnya kembali ke rumah. Pemuda itu pun dengan ikhlas merawat sang ibu hingga akhir usianya.
-Sebuah tulisan Ahmad Rifa'i Rif'an dalam buku Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati-