Minggu, 24 November 2013

Lezatnya Ibadah

"Orang yang akan merasakan lezatnya keimanan adalah orang yang rela Alloh sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul utusan Alloh" 
(HR. Muslim)
Semua penjenguk menatap kasihan bercampur heran. Menyandang sebagai sahabat Nabi, Duta Islam pertama dalam perluasan medan dakwah dan seorang yang ahli dalam fikih, tak seharusnya ia menangis. Ya, saat terbaring sakit menjelang wafatnya, Muadz bin Jabal tersedu. Apakah Muadz meratapi sakitnya? Bukankah dia harus bersabar? Apakah Muadz takut mati? Bukankah dia adalah pasukan pemberani dalam setiap peperangan? Muadz menangis bukan untuk itu. Dia menangis untuk satu hal yang belum pernah terbayang oleh penjenguk, apalagi oleh kita saat ini.

"Aku menangis," ucapnya lirih, "karena aku tidak akan merasakan lagi rasa dahaga (orang yang berpuasa) ketika hari sangat panas, tidak lagi merasakan bangun malam untuk melaksanakan shalat di musim yang dingin dan tidak lagi berdekatan dengan orang-orang yang berilmu saat bersimpuh di halqoh dzikir."

Subhanallah.. Bilakah waktunya kita bisa sampai ke tingkatan Muadz bin Jabal? Saking menikmatinya terhadap ibadah, saat sakaratul maut pun masih merisaukan diri yang akan berpisah dengan sholat malam, dengan puasa, dan dengan majelis dzikir. Itulah Muadz. Sedihnya bukan karena ia akan meninggalkan dunia. Sedihnya adalah karena akan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ibadah itu.

Menghadapkan diri pada Muadz. membuat kita bercermin. Dimanakah ibadah dan ketaatan kepada Alloh itu kita letakkan selama ini? Jangankan sakaratul maut yang semuanya serba gawat dan mengerikan, dalam keadaan sehat pun kadang diri ini "mati rasa" terhadap ibadah-ibadah tersebut. Tak ternikmati. Bahkan merasa terbebani.

Cobalah dirasa-rasa, selama ini ketika berdoa apakah kita menikmati kata demi kata dalam dialog kepada Alloh? Atau malah formalitas ucapan yang meluncur lancar karena sudah hafal di luar kepala. Sementara kosong dari tingginya rasa harap.

Apakah yang membedakan sholat kita dengan mereka? Apakah yang membedakan puasa kita, wirid kita, doa kita dengan mereka? Mari kita menjenguk ke dalam diri. Yang pasti, orang-orang shalih semacam Muadz yang menikmati ibadahnya, mereka beriman sebagaimana Nabi beriman. Mereka berusaha beribadah sebagaimana Nabi beribadah. Mereka berusaha mencintai Alloh di atas segalanya, sebagaimana Nabi melakukannya. Sehingga apabila Nabi pernah bercerita: "Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam sholat." Maka mereka juga mencari kesejukan dalam sholatnya.

Tercapainya seorang hamba terhadap kenikmatan beribadah adalah karunia tak terhingga dari Alloh ta'ala. Kenikmatan ibadah akan membuat seorang hamba semakin kuat keimanannya. Kenikmatan ibadah itulah yang akan menjadi penawar kesedihan. Kenikmatan ibadah itulah yang membuat kita tak berselera terhadap tawaran kemaksiatan. Akan ada cerita, seorang laki-laki menjauhi zina karena tak ingin kehilangan kenikmatan ibadahnya. Akan ada cerita, kenikmatan sholat meredakan amarah seorang muslim yang didzalimi orang lain. Dan cerita-cerita lainnya, dimana mukmin menjadi manusia hebat dan berbeda karena ketakwaan yang telah dinikmatinya.

Saudaraku, kita pasti juga merindukan jiwa yang bisa menikmati sujud dan ketaatan kepada Alloh. Mencapai tingkatan menikmati ibadah adalah impian orang-orang beriman. Ya, apakah Sayyidina Muadz bin Jabal berpikir hanya beliau saja yang berhak merasakan nikmatnya ibadah? Tidak. Sungguh kita juga akan berjuang untuk meraihnya. Insya Alloh..


(dikutip dari Majalah Nurul Hayat)