Kamis, 15 Mei 2014

Percik Embun

Antara Dia dan Kita

Lelaki renta itu, 

dengan kehalusan hatinya ingin ber-Islam 

menjadi sebab turunnya ayat.

'Abasa watawalla'

Rasul pun ditegur Allah karenanya.

seorang miskin lagi buta, 
bukan berarti tak lebih utama dari pemuka negara


Lelaki renta itu,

pernah minta keringanan 
untuk tidak ikut sholat berjamaah di masjid

karena dia buta, karena dia sebatang kara

karena masjid jauh sekali dari rumahnya

tapi tanya Rasul, "Apakah engkau masih mendengar adzan?"
saat dijawabnya masih, maka kata Rasul, "Kalau begitu, berangkatlah"


Lalu, tunduk patuh ia pada perintah

sekali pun tak pernah ia sanggah

tiap sholat lima waktu ia sholat berjamaah



Meski fajar masih pekat dan jarak masjid tak dekat

ia meraba raba dalam gelap
hingga suatu saat, kakinya tersandung bongkahan batu
badannya terjerembab jatuh, mukanya tersungkur di runcingnya batu
berdarah-darah..

Setelahnya, selalu datang seorang lelaki 

menuntunnya dengan ramah
pergi dan pulang sholat jamaah

setiap hari, setiap lima waktu

hingga suatu saat, lelaki tua ingin sekali tahu
siapa gerangan lelaki penolongnya itu

karena ingin ia doakan atas kebajikannya selama ini


Tapi kata lelaki muda, "Jangan sekali-kali kau doakan aku, 
dan jangan sekali-kali kau tahu namaku. 
Karena aku adalah iblis
sontak lelaki renta itu terkejut,


"Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid, 
sedangkan dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan sholat?"
Iblis menjawab, "Ingatkah dulu saat engkau hendak sholat shubuh berjamaah, 
kau tersandung batu, lalu bongkahnya melukai wajahmu?"

"Pada saat itu aku mendengar ucapan Malaikat, 
bahwa Allah telah mengampuni setengah dosamu. 
Aku takut kalau engkau tersandung lagi, 
lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain. 
Maka aku selalu menuntunmu ke masjid dan mengantarkanmu pulang."


Lalu saat tubuh itu merenta, makin menua dimakan usia
datang seruan perang Qaddisiyah

Sang khalifah Umar mengumpulkan segenap lelaki dari seluruh penjuru negeri

terselip ia, berbaris bersama

ingin sekali ikut berperang di medan laga, demi cita-cita mulia


Khalifah Umar melarangnya
bagaimana seorang buta lagi renta, akan ikut berperang?

bagaimana jika dia langsung celaka terkena tombak?
atau justru mencelakai temannya karena tak mampu mengenali sesiapa?



Tapi lelaki tua itu bersikukuh,

"Tempatkan aku di antara dua pasukan yang berperang. 

Aku akan membawa panji kemenangan. 
Aku akan memegangnya erat-erat untuk kalian. 
Aku buta, karena itu aku pasti tak akan lari."
Khalifah tak lagi mampu menghalangi



Lalu semuanya, berangkatlah

lelaki tua itu ingin menepati janjinya

dengan baju besi yang dikenakannya dan bendera besar yang dibawanya

dia berjanji akan mengibarkannya senantiasa atau mati terkapar di sampingnya

Lewat pertempuran Qaddisiyah, Persia yg congkak pun kalah

tapi kemenangan itu tak murah

dibayar dengan nyawa ratusan syuhada, terselip di antara mereka jenazah lelaki tua

terkapar berlumuran darah sambil memeluk erat sebuah bendera

sungguh, dia telah menepati janjinya

Wahai lelaki mulia,
sesak dadaku membaca kisah hidupmu, menyungai sudut mataku mengenangmu
engkau buta, sebatang kara, dan renta
tapi itu tak membuatmu pasrah dan diam
meski udzur telah membolehkanmu untuk tak kemana-mana, di rumah saja


Lalu, bagaimana dengan diriku ini?

aku masih muda, aku bukan fuqara

aku tak buta, juga tak sebatang kara

tapi kenapa, sering sekali ada alasan mendera untuk tak bersegera?

Lelaki sepertimu, dengan segala keterbatasan
terus mencari-cari alasan, agar mampu mengambil peran

Sedangkan aku, kita
dengan segala kemudahan, sering mencari-cari alasan
agar boleh tak ikut berperan

Lalu, dengan apa akan kita buktikan
bahwa kita ini Islam?

Belajar darinya, 
Abdullah bin Ummi Maktum

- Copied from someone -

Percik embun pagi hari yang saya abadikan di Kota "Atap"/ Genteng City, Banyuwangi




And in Sujud, I Found What I've Lost..

Bismillahi Al-Rahmaan Al-Raheem

Sujud melibatkan 7 anggota tubuh yang bertumpu pada bumi, yakni: wajah (dahi & hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari-jari kaki.

Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah, berdoa dan meminta segala macam permintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala. Sekaligus mengikis sifat sombong, riya’, takabur dan lain-lain.

Dr. Fidelma O’Leary, PhD, seorang neuroscientist dari St. Edward’s University, telah menjadi mualaf, karena mendapatkan fakta tentang manfaat sujud yang luar biasa bagi kesehatan.

Dalam kajiannya ditemukan ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dialiri darah yang mana baru bisa dialiri bila kita melakukan sujud. Namun urat syaraf tersebut hanya memerlukan darah beberapa saat saja, yaitu pada waktu-waktu shalat yang telah ditetapkan (subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan ‘isya). Subhaanallah.

Karena letak otak di atas jantung, maka menurut Prof. Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia, maka perlu dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahi Alaihi Wassalam, agar kita sujud berlama-lama di raka’at terakhir.

Manfaat sujud berlama-lama ini, untuk menolak rasa pening dan migraine, meyegarkan otak, menajamkan akal pikiran (kepekaan), melegakan sistim pernapasan, membetulkan rahim yang jatuh, memperbaiki posisi bayi sungsang dan lain-lain.

Yang menarik, jika kita perhatikan bentuk penampang otak, terlihat seperti orang yang lagi bersujud ….





Subhaanallah …