Salaam.
Hari ini tepat 21 April dimana masyarakat Indonesia selalu memperingati perjuangan sang Emansipator Wanita, Ibu Kartini. Di balik kontroversi sejarah yang dibangun oleh berbagai pihak, saya percaya Ibu Kartini adalah sosok yang sangat mulia. Seandainya Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, mungkin saya akan banyak bertanya tentang kebenaran perjuangan yang sebenar-benarnya beliau perjuangkan. Why am I so curious with that?
Banyak versi yang menyebut bahwa kedudukan wanita yang beliau perjuangkan dahulu adalah seperti sosok "wanita modern" saat ini. Ya. Menurut mereka, emansipasi wanita tercermin pada wanita yang mandiri, bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri. Ini adalah moto yang senantiasa digaungkan oleh kaum feminis yang ikut mencatut nama Ibu Kartini dalam kampanyenya. Namun, apakah benar begitu? Maksud saya, apakah hal tersebut yang benar-benar diperjuangkan oleh Ibu Kartini? Wallahu 'alam
Tetapi, pada kesempatan ini izinkan saya untuk menuliskan kembali satu kisah seorang perempuan dengan paras penuh cahaya. Kisah ini terdapat dalam buku yang sedang saya baca, saya tuliskan di blog ini karena amat-sangat-menginspirasi-sekali (sudah jangan diprotes diksinya :p). Kisah yang sangat terkenal ini terjadi sekitar 1300-an tahun lalu, namun ceritanya yang sarat inspirasi, insya Allah, diabadikan dengan hati-hati oleh para ulama sehingga kita bisa percaya dengan kebenaran kisah tersebut. Simak kisahnya berikut ini.
Hari ini tepat 21 April dimana masyarakat Indonesia selalu memperingati perjuangan sang Emansipator Wanita, Ibu Kartini. Di balik kontroversi sejarah yang dibangun oleh berbagai pihak, saya percaya Ibu Kartini adalah sosok yang sangat mulia. Seandainya Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, mungkin saya akan banyak bertanya tentang kebenaran perjuangan yang sebenar-benarnya beliau perjuangkan. Why am I so curious with that?
Banyak versi yang menyebut bahwa kedudukan wanita yang beliau perjuangkan dahulu adalah seperti sosok "wanita modern" saat ini. Ya. Menurut mereka, emansipasi wanita tercermin pada wanita yang mandiri, bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri. Ini adalah moto yang senantiasa digaungkan oleh kaum feminis yang ikut mencatut nama Ibu Kartini dalam kampanyenya. Namun, apakah benar begitu? Maksud saya, apakah hal tersebut yang benar-benar diperjuangkan oleh Ibu Kartini? Wallahu 'alam
Namun, yang saya tahu pasti, buku karya Empat Sekawan yang mengabadikan roman dari surat-surat yang ditulis oleh Ibu Kartini (surat-surat tersebut juga ada beberapa yang dinilai palsu), yang mengambil judul Habis Gelap Terbitlah Terang, diambil dari satu kalimat di surat Ibu Kartini yang terinspirasi dari firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 257:
"..Mina dzulumaati ila nuuri.."
"..Dari kegelapan kepada cahaya (iman).."
Tetapi, pada kesempatan ini izinkan saya untuk menuliskan kembali satu kisah seorang perempuan dengan paras penuh cahaya. Kisah ini terdapat dalam buku yang sedang saya baca, saya tuliskan di blog ini karena amat-sangat-menginspirasi-sekali (sudah jangan diprotes diksinya :p). Kisah yang sangat terkenal ini terjadi sekitar 1300-an tahun lalu, namun ceritanya yang sarat inspirasi, insya Allah, diabadikan dengan hati-hati oleh para ulama sehingga kita bisa percaya dengan kebenaran kisah tersebut. Simak kisahnya berikut ini.
...
Hal ini mengingatkan saya kepada kisah putri seorang penjual susu pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ra. Ketika ia merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, maka ia menjadi penyebab utama munculnya kebaikan bagi umat. Saya akan menceritakan cuplikan kisahnya secara singkat di bawah ini.
Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Khattab membuat Undang-Undang yang melarang penipuan dalam hal menjual susu yang dicampur dengan air. Akan tetapi, apakah 'mata' undang-undang dapat melihat setiap orang yang melanggarnya dan menangkap setiap orang yang berkhianat dan menipu?
Undang-undang tidak mungkin dapat melakukannya, karena mata manusia memiliki batas-batas yang tidak mungkin dilampauinya. Akan tetapi, tidak ada yang mustahil di mata Allah. Keimanan dan muraaqabah (merasa selalu diawasi) oleh Allah dapat berfungsi dengan baik dalam masalah-masalah seperti ini.
Di sinilah letak kisah yang sangat terkenal tentang dialog antara seorang ibu dan anak perempuannya. Sang ibu yang berprofesi sebagai penjual susu itu, ingin mencampur susu dengan air untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Tetapi anak perempuannya yang beriman mengingatkannya bahwa Amirul Mukminin, Umar ra., telah membuat undang-undang yang melarang hal itu.
Mendengar teguran putrinya, sang ibu berkata, "Apakah Amirul Mukminin melihat kita saat mencampurnya?" Putrinya menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang keluar dari hati yang penuh keimanan kepada Allah dan yakin bahwa Allah mengetahui segalanya. Ia berkata, "Walaupun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi bukankah Tuhan Amirul Mukminin tetap melihat kita?"
Umar, yang saat itu mendengar percakapan ibu dan anaknya yang shalih itu dari luar, langsung pergi dan mengumpulkan seluruh anak laki-lakinya seraya berkata, "Hendaknya seorang di antara kalian ada yang pergi ke rumah wanita itu dan menikahinya. Aku sangat berharap, Allah akan mengeluarkan dari rahimnya seorang keturunan yang akan mempersatukan umat Islam."
Firasat Umar benar-benar terjadi. Wanita itu dinikahi oleh putranya yang bernama 'Ashim. Dari keduanya lahirlah seorang anak perempuan yang mereka beri nama Laila dan dikenal dengan panggilan Ummu Umar. Laila dipersunting oleh Abdul 'Aziz bin Marwan. Dari pasangan inilah lahir seorang Khalifah yang shalih, Umar bin Abdul 'Aziz, yang membawa umat Islam kepada setiap kebaikan. Itulah hasil yang dipetik dari muraaqabah (merasa selalu diawasi Allah Azza wa Jalla)
Selama masa pemerintahannya-walaupun sangat singkat-Umar berusaha keras untuk mengembalikan semua harta yang didapatkan dengan cara yang tidak benar (zalim) kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Setiap hari, petugasnya berkeliling di setiap sudut kota dan berteriak, "Mana orang-orang yang punya utang? Mana pemuda-pemuda yang ingin menikah? Mana anak-anak yatim? Mana orang-orang miskin?" Semua orang yang disebutnya itu akan mendapatkan tunjangan sehingga kebutuhannya tercukupi.
Meskipun telah berlaku adil, hidup zuhud, selalu mengembalikan harta-harta yang diambil secara zalim kepada orang-orang yang berhak menerima, dan menerapkan gaya hidup yang sangat sederhana dan ketat terhadap diri dan segenap keluarganya, tetapi Umar bin Abdul 'Aziz selalu bermunajat kepada Allah dengan lirih, "Ya Allah, sesungguhnya Umar tidak pantas mendapatkan kasih sayang-Mu, tapi kasih sayang-Mu lebih pantas mendapatkan segalanya dari Umar."
Suatu ketika, ada orang yang memujinya seraya berkata, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasa besarmu terhadap Islam, wahai Amirul Mukminin." Umar membalas, "Tidak begitu, semoga Allah membalas Islam dengan kebaikan atas jasa besarnya terhadapku."
Itulah Umar bin Abdul 'Aziz, pemimpin besar yang adil. Pada suatu hari, ia keluar dari rumahnya dengan menyamar bersama pembantu setianya, Muzahim, menuju jalan-jalan utama yang cukup jauh. Ia bertanya kepada para musafir yang melewati jalan itu untuk menggali informasi tentang keadaan negeri mereka. Umar bertanya, "Bagaimana keadaan masyarakat di negerimu saat engkau tinggalkan mereka?" Sang musafir menjawab, "Apakah engkau mau informasi secara umum atau informasi tentang kasus tertentu?" Umar berkata lagi, "Informasi yang umum saja." Orang itu berkata, "Saat meninggalkan negeriku, keadaan orang yang zalim bertekuk lutut, sedangkan orang yang dizalimi ditolong, semua rakyat sejahtera dan orang-orang miskin dibantu…"
Umar bin Abdul 'Aziz tak kuasa menahan tangisnya karena haru, ia berkata kepada Muzahim, "Demi Allah, seandainya keadaan semua negeri sama seperti negeri orang ini, maka itu lebih membahagiakanku daripada mendapatkan dunia dan seisinya."
Malik bin Dinar berkata, "Ketika Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing yang berada di lereng-lereng gunung yang jauh berkata, 'Siapakah orang shalih yang telah diangkat menjadi pemimpin saat ini?' Beberapa orang bertanya tentang maksud pertanyaan yang mengherankan itu, 'Bagaimana kalian menyimpulkan seperti itu?' Mereka berkata, 'Menurut pengalaman kami, jika ada orang shalih yang menjadi pemimpin, maka serigala dan singa tidak akan mengganggu (kambing-kambing) kami.'"
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa seorang penggembala domba menghadap Umar bin Abdul 'Aziz seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, aku mengalami sesuatu yang sangat mengejutkan!" Umar berkata, "Apa itu?" Sang penggembala berkata, "Setiap malam, serigala datang dan tidur di tengah-tengah domba-dombaku." Umar berkata, "Tidak perlu heran, aku telah memperbaiki hubungan antara diriku dengan Tuhanku, maka Allah memperbaiki hubungan antara serigala dan domba."
Semua itu adalah hasil yang dipetik dari sifat muraaqabah yang dimiliki oleh neneknya dahulu yang merupakan anak perempuan seorang penjual susu.
...
--Mahmud Al-Mishri dalam kitab yang berjudul 35 Sirah Shahabiyah--
