Selasa, 21 April 2015

Perempuan di Balik Layar, Sinarnya Jauh Lebih Bercahaya

Salaam.

Hari ini tepat 21 April dimana masyarakat Indonesia selalu memperingati perjuangan sang Emansipator Wanita, Ibu Kartini. Di balik kontroversi sejarah yang dibangun oleh berbagai pihak, saya percaya Ibu Kartini adalah sosok yang sangat mulia. Seandainya Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, mungkin saya akan banyak bertanya tentang kebenaran perjuangan yang sebenar-benarnya beliau perjuangkan. Why am I so curious with that?

Banyak versi yang menyebut bahwa kedudukan wanita yang beliau perjuangkan dahulu adalah seperti sosok "wanita modern" saat ini. Ya. Menurut mereka, emansipasi wanita tercermin pada wanita yang mandiri, bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri. Ini adalah moto yang senantiasa digaungkan oleh kaum feminis yang ikut mencatut nama Ibu Kartini dalam kampanyenya. Namun, apakah benar begitu? Maksud saya, apakah hal tersebut yang benar-benar diperjuangkan oleh Ibu Kartini? Wallahu 'alam


Namun, yang saya tahu pasti, buku karya Empat Sekawan yang mengabadikan roman dari surat-surat yang ditulis oleh Ibu Kartini (surat-surat tersebut juga ada beberapa yang dinilai palsu), yang mengambil judul Habis Gelap Terbitlah Terang, diambil dari satu kalimat di surat Ibu Kartini yang terinspirasi dari firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 257:

"..Mina dzulumaati ila nuuri.."
"..Dari kegelapan kepada cahaya (iman).."

Tetapi, pada kesempatan ini izinkan saya untuk menuliskan kembali satu kisah seorang perempuan dengan paras penuh cahaya. Kisah ini terdapat dalam buku yang sedang saya baca, saya tuliskan di blog ini karena amat-sangat-menginspirasi-sekali (sudah jangan diprotes diksinya :p). Kisah yang sangat terkenal ini terjadi sekitar 1300-an tahun lalu, namun ceritanya yang sarat inspirasi, insya Allah, diabadikan dengan hati-hati oleh para ulama sehingga kita bisa percaya dengan kebenaran kisah tersebut. Simak kisahnya berikut ini.
...
Hal ini mengingatkan saya kepada kisah putri seorang penjual susu pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ra. Ketika ia merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, maka ia menjadi penyebab utama munculnya kebaikan bagi umat. Saya akan menceritakan cuplikan kisahnya secara singkat di bawah ini.
Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Khattab membuat Undang-Undang yang melarang penipuan dalam hal menjual susu yang dicampur dengan air. Akan tetapi, apakah 'mata' undang-undang dapat melihat setiap orang yang melanggarnya dan menangkap setiap orang yang berkhianat dan menipu?
Undang-undang tidak mungkin dapat melakukannya, karena mata manusia memiliki batas-batas yang tidak mungkin dilampauinya. Akan tetapi, tidak ada yang mustahil di mata Allah. Keimanan dan muraaqabah (merasa selalu diawasi) oleh Allah dapat berfungsi dengan baik dalam masalah-masalah seperti ini.
Di sinilah letak kisah yang sangat terkenal tentang dialog antara seorang ibu dan anak perempuannya. Sang ibu yang berprofesi sebagai penjual susu itu, ingin mencampur susu dengan air untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Tetapi anak perempuannya yang beriman mengingatkannya bahwa Amirul Mukminin, Umar ra., telah membuat undang-undang yang melarang hal itu.
Mendengar teguran putrinya, sang ibu berkata, "Apakah Amirul Mukminin melihat kita saat mencampurnya?" Putrinya menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang keluar dari hati yang penuh keimanan kepada Allah dan yakin bahwa Allah mengetahui segalanya. Ia berkata, "Walaupun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi bukankah Tuhan Amirul Mukminin tetap melihat kita?"
Umar, yang saat itu mendengar percakapan ibu dan anaknya yang shalih itu dari luar, langsung pergi dan mengumpulkan seluruh anak laki-lakinya seraya berkata, "Hendaknya seorang di antara kalian ada yang pergi ke rumah wanita itu dan menikahinya. Aku sangat berharap, Allah akan mengeluarkan dari rahimnya seorang keturunan yang akan mempersatukan umat Islam."
Firasat Umar benar-benar terjadi. Wanita itu dinikahi oleh putranya yang bernama 'Ashim. Dari keduanya lahirlah seorang anak perempuan yang mereka beri nama Laila dan dikenal dengan panggilan Ummu Umar. Laila dipersunting oleh Abdul 'Aziz bin Marwan. Dari pasangan inilah lahir seorang Khalifah yang shalih, Umar bin Abdul 'Aziz, yang membawa umat Islam kepada setiap kebaikan. Itulah hasil yang dipetik dari muraaqabah (merasa selalu diawasi Allah Azza wa Jalla)
Selama masa pemerintahannya-walaupun sangat singkat-Umar berusaha keras untuk mengembalikan semua harta yang didapatkan dengan cara yang tidak benar (zalim) kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Setiap hari, petugasnya berkeliling di setiap sudut kota dan berteriak, "Mana orang-orang yang punya utang? Mana pemuda-pemuda yang ingin menikah? Mana anak-anak yatim? Mana orang-orang miskin?" Semua orang yang disebutnya itu akan mendapatkan tunjangan sehingga kebutuhannya tercukupi.
Meskipun telah berlaku adil, hidup zuhud, selalu mengembalikan harta-harta yang diambil secara zalim kepada orang-orang yang berhak menerima, dan menerapkan gaya hidup yang sangat sederhana dan ketat terhadap diri dan segenap keluarganya, tetapi Umar bin Abdul 'Aziz selalu bermunajat kepada Allah dengan lirih, "Ya Allah, sesungguhnya Umar tidak pantas mendapatkan kasih sayang-Mu, tapi kasih sayang-Mu lebih pantas mendapatkan segalanya dari Umar."
Suatu ketika, ada orang yang memujinya seraya berkata, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasa besarmu terhadap Islam, wahai Amirul Mukminin." Umar membalas, "Tidak begitu, semoga Allah membalas Islam dengan kebaikan atas jasa besarnya terhadapku."
Itulah Umar bin Abdul 'Aziz, pemimpin besar  yang adil. Pada suatu hari, ia keluar dari rumahnya dengan menyamar bersama pembantu setianya, Muzahim, menuju jalan-jalan utama yang cukup jauh. Ia bertanya kepada para musafir yang melewati jalan itu untuk menggali informasi tentang keadaan negeri mereka. Umar bertanya, "Bagaimana keadaan masyarakat di negerimu saat engkau tinggalkan mereka?" Sang musafir menjawab, "Apakah engkau mau informasi secara umum atau informasi tentang kasus tertentu?" Umar berkata lagi, "Informasi yang umum saja." Orang itu berkata, "Saat meninggalkan negeriku, keadaan orang yang zalim bertekuk lutut, sedangkan orang yang dizalimi ditolong, semua rakyat sejahtera dan orang-orang miskin dibantu…"
Umar bin Abdul 'Aziz tak kuasa menahan tangisnya karena haru, ia berkata kepada Muzahim, "Demi Allah, seandainya keadaan semua negeri sama seperti negeri orang ini, maka itu lebih membahagiakanku daripada mendapatkan dunia dan seisinya."
Malik bin Dinar berkata, "Ketika Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing yang berada di lereng-lereng gunung yang jauh berkata, 'Siapakah orang shalih yang telah diangkat menjadi pemimpin saat ini?' Beberapa orang bertanya tentang maksud pertanyaan yang mengherankan itu, 'Bagaimana kalian menyimpulkan seperti itu?' Mereka berkata, 'Menurut pengalaman kami, jika ada orang shalih yang menjadi pemimpin, maka serigala dan singa tidak akan mengganggu (kambing-kambing) kami.'"
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa seorang penggembala domba menghadap Umar bin Abdul 'Aziz seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, aku mengalami sesuatu yang sangat mengejutkan!" Umar berkata, "Apa itu?" Sang penggembala berkata, "Setiap malam, serigala datang dan tidur di tengah-tengah domba-dombaku." Umar berkata, "Tidak perlu heran, aku telah memperbaiki hubungan antara diriku dengan Tuhanku, maka Allah memperbaiki hubungan antara serigala dan domba."
Semua itu adalah hasil yang dipetik dari sifat muraaqabah yang dimiliki oleh neneknya dahulu yang merupakan anak perempuan seorang penjual susu.
...
--Mahmud Al-Mishri dalam kitab yang berjudul 35 Sirah Shahabiyah--



Senin, 30 Maret 2015

Sejauh Mana Pengorbanan Seorang Muslim Yang Seharusnya?

Sesungguhnya orang yang senang dengan kebahagiaan saudaranya sesama muslim, akan merasa bahagia ketika dapat memberikan hartanya kepada saudaranya yang membutuhkan. Sanggup berkorban nyawa jika ada tuntutan yang mendesak, melepaskan kepentingan pribadi demi mewujudkan kepentingan orang banyak, rela hidup sederhana, dan menderita jika hal tersebut dapat merealisasikan kebenaran atau kebaikan. Bahkan, sanggup menelan kepahitan dan menikmati siksaan dan siap menyongsong kematian demi membela petunjuk dan kebenaran yang diyakininya.

Tetapi, adakah contoh manusia seperti ini? Madrasah macam apakah yang mengeluarkannya? Saya bersumpah, satu-satunya madrasah yang dapat melahirkan contoh manusia seperti itu adalah madrasah iman.

Imanlah yang membuat seorang manusia dapat mengendalikan dorongan nafsu dan tuntutan duniawinya. Sehingga, ia merasa cukup dengan makanan yang sekadar dapat menghilangkan rasa lapar dan dengan pakaian yang sekadar dapat menutupi aurat. Ia tetap senang walaupun hanya punya sedikit harta dan rumah yang sederhana. Baginya, harta tidaklah berarti apa-apa, sehingga dengan mudah ia men-shadaqahkan-nya. Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan kediamannya dan tidak pula sulit meninggalkan keluarganya. Bahkan, ia merasa ringan jika harus melepaskan nyawanya.

Sesungguhnya segala bentuk pengorbanan, baik materi, perasaan, jiwa maupun fisik, yang dilakukan oleh seorang mukmin di jalan Allah, sekecil apapun, tetap tercatat dalam pundi-pundi kebaikannya di sisi Allah. Allah SWT tidak akan mengabaikannya walaupun hanya sebesar biji dzarrah. Termasuk langkah-langkah kakinya, sepeser uang yang di-shadaqahkan-nya, dan perasaan lapar, haus, dan lelah yang dialaminya,
"Itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (at-Taubah: 120-121)
- Mahmud Al-Mishri dalam Buku '35 Sirah Shahabiyah'-



Minggu, 22 Maret 2015

Duhai Diriku, Mengapa Engkau Selingkuhi Allah?

Duhai diriku…
Bisakah kau menghitung berapa volume oksigen yang telah engkau hirup 
dari engkau lahir hingga saat ini?
Bisakah kau menakar berapa liter air yang telah engkau minum?
Hingga saat ini, sudah berapa juta kali kau mengayunkan kakimu untuk melangkah ke tempat-tempat indah yang kau kagumi keindahannya?
Berapa kali tanganmu bekerja sesuai dengan yang kau perintahkan?
Menulis, memencet nomor telepon, mengambil dan membawa barang
Kau gunakan menggendong anak kecil, menjinjing tas, mengelus tubuhmu yang sakit, 
menggenggam tangan ibumu yang makin berkerut termakan usia
Berapa juta kali kau mengedipkan kedua matamu?
Mata yang memberikan kau pengalaman untuk melihat putihnya awan di langit 
dan birunya air samudra?
Bisakah kau rasakan hembusan angin semilir?

Duhai diriku…
Tahukah engkau, gadget dengan kamera tercanggih yang ditemukan manusia hingga saat ini tak dapat menandingi kemampuan mata dalam melihat objek?
Tahukah engkau, robot tercanggih di dunia yang diciptakan oleh Jepang  untuk menyerupai manusia, apakah berhasil? Tentu tidak.
Tahukah engkau duhai diriku, fisik yang sempurna dan kenikmatan menjalani hidup ini, 
apakah bisa engkau ciptakan sendiri?
Pernahkah engkau melihat bagaimana proses terciptanya satu individu baru?
Atau pernahkah engkau melihat bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
Langit ditinggikan tanpa ada tiang yang menyanggahnya?
Bumi, bulan, dan matahari berada dalam keteraturan tanpa satu inchi pun keluar dari garis orbit

Duhai diriku…
Tanyalah pada dirimu…
Siapakah yang telah menciptakan ini semua?
Siapakah yang telah mengatur alam semesta sehingga tercipta keteraturan?
Siapakah yang telah mencukupkan nikmatmu?

Jawabannya tentu bukan manusia, bukan?
Manusia itu terbatas, tak bisa berbuat demikian.
Lihat saja diri kita.
Terkena satu bakteri atau virus yang ukurannya sangat kecil saja, tubuh kita sudah terserang penyakit.
Manusia itu lemah.
Kau tak berhak untuk berjalan angkuh di bumi ini.
Ataupun berlagak sombong di alam manapun.
Hanya Dia-lah, Allah, yang berhak. Karena Dia-lah yang mampu mencipta.

Duhai diriku…
Sungkurkan dirimu di setiap malam-malam sunyi.
Bermunajatlah.
Apakah engkau mencintai Rabb-Mu?
Apakah engkau telah hidup sesuai dengan perintah-Nya?
Apakah engkau yakin engkau telah memberikan seluruh hidupmu pada-Nya?
Apakah jawabannya tidak?
Atau belum?

Duhai diriku…
Apalagi yang engkau pinta dari Rabb-Mu?
Bukankah Dia telah memberikan semua yang terbaik untukmu?
Bukankah Dia telah memberikan segala sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh siapapun kepadamu?
Siapa pemberi engkau hidung untuk bernafas?
Siapa pemberi engkau tangan untuk bekerja?
Siapa pemberi engkau kaki untuk melangkah?
Apakah manusia?
Bukan!
Siapa pemberi engkau jantung yang berdetak?
Siapa pemberi engkau hati untuk merasa?
Siapa pemberi engkau mata untuk melihat?
Siapa pemberi engkau telinga untuk mendengar?
Apakah manusia?
Sekali-kali bukan!
Yang memberimu segala sesuatu yang tak bisa diberikan oleh manusia terkaya sekalipun.
 Ia-lah Allah Maha Esa Maha Kuasa.

Duhai diriku…
Tidak-kah kau mencintai Allah?
Dia telah memberikan engkau nikmat yang sangat berlimpah.
Mengapa engkau tidak mau memenuhi perintah-Nya?
Engkau diperintah untuk menundukkan pandangan,
Menutup aurat, menjauhi zina
Berkata yang benar,
Melarang riba,
Mengharamkan yang haram, menghalalkan yang halal.
Engkau abaikan panggilan-Nya.
Engkau acuhkan seruan utusan-Nya.
Engkau tak peduli terhadap saudaramu sesama muslim.
Engkau tak mau mengemban Islam dalam pundakmu.
Apakah itu yang disebut cinta?

Duhai diriku…
Cinta adalah tentang siapa yang berada pada nomor satu.
Namun, siapakah yang berada di urutan pertama dalam hidup kita?

Duhai diriku… Mengapa engkau selingkuhi Allah…

- Dwi Ayu Rakhmawati -

Minggu, 06 Juli 2014

Copied Text For You

Kalimat Indah dari Dr. Aidh Al Qarni


Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan?
Atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah

Hidup itu singkat, sedangkan targetnya banyak
Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah

Kalau merasa jalan sudah sempit,
Kembalilah ke Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib!
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang
Sedang kapal Nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang
Tetapi, titanic tenggelam
Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia
Taufik hanya dari Allah swt

Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
Tempat dimana orang tua kita, Adam, tinggal pertama kali
Kita tinggal disini hanya untuk sementara
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali

Maka berusahalah semampumu, untuk mengejar kafilah orang-orang shalih
Yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini..!

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh
Atau karena ditinggal orang tercinta
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan,
sebab kita pasti akan bertemu di akhirat

Perpisahan itu adalah,
Jika salah satu di antara kita di surga dan yang lain di neraka
Semoga Allah swt menjadikan kita semua sebagai penghuni surga..

Hidup ini adalah cerita pendek,
dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah
Lalu hisab (yang hanya menghasilkan dua kemungkinan)
Pahala atau siksa

Maka, hiduplah hanya untuk Allah,
niscaya kau akan jadi makhlukNya yang paling bahagia

Sabtu, 14 Juni 2014

Takutlah hanya kepada Allah SWT

"Barang siapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barang siapa yang tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu" (HR Al Baihaqi)
Ya Allah, Ya Rabb…
Kami akui betapa lemahnya hamba sehingga kami takut kepada banyak hal
Begitu hebatnya ketakutan menguasai kami, hingga tanpa kami sadari kami justru tidak lagi takut hanya kepada-Mu.
Padahal, Engkaulah satu-satunya Zat yang paling pantas dan harus kami takuti.

Seharusnya kami takut Engkau tidak memberikan kasih sayang-Mu kepada kami,
Seharusnya kami takut Engkau tidak memberikan taufiq-Mu kepada kami,
Seharusnya kami takut Engkau tidak meridhai kami,
Seharusnya kami takut pada pedihnya azab yang Engkau berikan kepada kaum yang fasik, dzalim, dan kafir
Seharusnya kami takut pada dahsyatnya siksaan-Mu

Namun, apa yang telah kami perbuat kepada-Mu?
Kami sibuk pada urusan-urusan duniawi kami
Kami lalai terhadap aturan-aturan Mu
Kami abai terhadap perintah-perintah Mu
Dan kami masih cinta kepada kemaksiatan dan larangan-larangan Mu

Ampuni kami ya Allah..
Jiwa ini sungguh akan kembali kepada-Mu..
Dunia ini sungguh akan runtuh seketika atas kehendak-Mu..
Dan tiada yang dapat menyelamatkan kami selain daripada Engkau..                          


Kasihi kami..
Rahmati dan berkahilah kami, ya Allah..
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Aamiin Ya Robbal 'Alamiin..

- Unknown -
                                

Kamis, 15 Mei 2014

Percik Embun

Antara Dia dan Kita

Lelaki renta itu, 

dengan kehalusan hatinya ingin ber-Islam 

menjadi sebab turunnya ayat.

'Abasa watawalla'

Rasul pun ditegur Allah karenanya.

seorang miskin lagi buta, 
bukan berarti tak lebih utama dari pemuka negara


Lelaki renta itu,

pernah minta keringanan 
untuk tidak ikut sholat berjamaah di masjid

karena dia buta, karena dia sebatang kara

karena masjid jauh sekali dari rumahnya

tapi tanya Rasul, "Apakah engkau masih mendengar adzan?"
saat dijawabnya masih, maka kata Rasul, "Kalau begitu, berangkatlah"


Lalu, tunduk patuh ia pada perintah

sekali pun tak pernah ia sanggah

tiap sholat lima waktu ia sholat berjamaah



Meski fajar masih pekat dan jarak masjid tak dekat

ia meraba raba dalam gelap
hingga suatu saat, kakinya tersandung bongkahan batu
badannya terjerembab jatuh, mukanya tersungkur di runcingnya batu
berdarah-darah..

Setelahnya, selalu datang seorang lelaki 

menuntunnya dengan ramah
pergi dan pulang sholat jamaah

setiap hari, setiap lima waktu

hingga suatu saat, lelaki tua ingin sekali tahu
siapa gerangan lelaki penolongnya itu

karena ingin ia doakan atas kebajikannya selama ini


Tapi kata lelaki muda, "Jangan sekali-kali kau doakan aku, 
dan jangan sekali-kali kau tahu namaku. 
Karena aku adalah iblis
sontak lelaki renta itu terkejut,


"Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid, 
sedangkan dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan sholat?"
Iblis menjawab, "Ingatkah dulu saat engkau hendak sholat shubuh berjamaah, 
kau tersandung batu, lalu bongkahnya melukai wajahmu?"

"Pada saat itu aku mendengar ucapan Malaikat, 
bahwa Allah telah mengampuni setengah dosamu. 
Aku takut kalau engkau tersandung lagi, 
lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain. 
Maka aku selalu menuntunmu ke masjid dan mengantarkanmu pulang."


Lalu saat tubuh itu merenta, makin menua dimakan usia
datang seruan perang Qaddisiyah

Sang khalifah Umar mengumpulkan segenap lelaki dari seluruh penjuru negeri

terselip ia, berbaris bersama

ingin sekali ikut berperang di medan laga, demi cita-cita mulia


Khalifah Umar melarangnya
bagaimana seorang buta lagi renta, akan ikut berperang?

bagaimana jika dia langsung celaka terkena tombak?
atau justru mencelakai temannya karena tak mampu mengenali sesiapa?



Tapi lelaki tua itu bersikukuh,

"Tempatkan aku di antara dua pasukan yang berperang. 

Aku akan membawa panji kemenangan. 
Aku akan memegangnya erat-erat untuk kalian. 
Aku buta, karena itu aku pasti tak akan lari."
Khalifah tak lagi mampu menghalangi



Lalu semuanya, berangkatlah

lelaki tua itu ingin menepati janjinya

dengan baju besi yang dikenakannya dan bendera besar yang dibawanya

dia berjanji akan mengibarkannya senantiasa atau mati terkapar di sampingnya

Lewat pertempuran Qaddisiyah, Persia yg congkak pun kalah

tapi kemenangan itu tak murah

dibayar dengan nyawa ratusan syuhada, terselip di antara mereka jenazah lelaki tua

terkapar berlumuran darah sambil memeluk erat sebuah bendera

sungguh, dia telah menepati janjinya

Wahai lelaki mulia,
sesak dadaku membaca kisah hidupmu, menyungai sudut mataku mengenangmu
engkau buta, sebatang kara, dan renta
tapi itu tak membuatmu pasrah dan diam
meski udzur telah membolehkanmu untuk tak kemana-mana, di rumah saja


Lalu, bagaimana dengan diriku ini?

aku masih muda, aku bukan fuqara

aku tak buta, juga tak sebatang kara

tapi kenapa, sering sekali ada alasan mendera untuk tak bersegera?

Lelaki sepertimu, dengan segala keterbatasan
terus mencari-cari alasan, agar mampu mengambil peran

Sedangkan aku, kita
dengan segala kemudahan, sering mencari-cari alasan
agar boleh tak ikut berperan

Lalu, dengan apa akan kita buktikan
bahwa kita ini Islam?

Belajar darinya, 
Abdullah bin Ummi Maktum

- Copied from someone -

Percik embun pagi hari yang saya abadikan di Kota "Atap"/ Genteng City, Banyuwangi




And in Sujud, I Found What I've Lost..

Bismillahi Al-Rahmaan Al-Raheem

Sujud melibatkan 7 anggota tubuh yang bertumpu pada bumi, yakni: wajah (dahi & hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari-jari kaki.

Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah, berdoa dan meminta segala macam permintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala. Sekaligus mengikis sifat sombong, riya’, takabur dan lain-lain.

Dr. Fidelma O’Leary, PhD, seorang neuroscientist dari St. Edward’s University, telah menjadi mualaf, karena mendapatkan fakta tentang manfaat sujud yang luar biasa bagi kesehatan.

Dalam kajiannya ditemukan ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dialiri darah yang mana baru bisa dialiri bila kita melakukan sujud. Namun urat syaraf tersebut hanya memerlukan darah beberapa saat saja, yaitu pada waktu-waktu shalat yang telah ditetapkan (subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan ‘isya). Subhaanallah.

Karena letak otak di atas jantung, maka menurut Prof. Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia, maka perlu dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahi Alaihi Wassalam, agar kita sujud berlama-lama di raka’at terakhir.

Manfaat sujud berlama-lama ini, untuk menolak rasa pening dan migraine, meyegarkan otak, menajamkan akal pikiran (kepekaan), melegakan sistim pernapasan, membetulkan rahim yang jatuh, memperbaiki posisi bayi sungsang dan lain-lain.

Yang menarik, jika kita perhatikan bentuk penampang otak, terlihat seperti orang yang lagi bersujud ….





Subhaanallah …