Duhai diriku…
Bisakah kau menghitung berapa volume oksigen yang telah
engkau hirup
dari engkau lahir hingga saat ini?
Bisakah kau menakar berapa liter air yang telah engkau
minum?
Hingga saat ini, sudah berapa juta kali kau mengayunkan
kakimu untuk melangkah ke tempat-tempat indah yang kau kagumi keindahannya?
Berapa kali tanganmu bekerja sesuai dengan yang kau
perintahkan?
Menulis, memencet nomor telepon, mengambil dan membawa
barang
Kau gunakan menggendong anak kecil, menjinjing tas, mengelus
tubuhmu yang sakit,
menggenggam tangan ibumu yang makin berkerut termakan usia
Berapa juta kali kau mengedipkan kedua matamu?
Mata yang memberikan kau pengalaman untuk melihat putihnya
awan di langit
dan birunya air samudra?
Bisakah kau rasakan hembusan angin semilir?
Duhai diriku…
Tahukah engkau, gadget dengan kamera tercanggih yang
ditemukan manusia hingga saat ini tak dapat menandingi kemampuan mata dalam
melihat objek?
Tahukah engkau, robot tercanggih di dunia yang diciptakan
oleh Jepang untuk menyerupai manusia,
apakah berhasil? Tentu tidak.
Tahukah engkau duhai diriku, fisik yang sempurna dan
kenikmatan menjalani hidup ini,
apakah bisa engkau ciptakan sendiri?
Pernahkah engkau melihat bagaimana proses terciptanya satu
individu baru?
Atau pernahkah engkau melihat bagaimana gunung-gunung
ditegakkan?
Langit ditinggikan tanpa ada tiang yang menyanggahnya?
Bumi, bulan, dan matahari berada dalam keteraturan tanpa
satu inchi pun keluar dari garis orbit
Duhai diriku…
Tanyalah pada dirimu…
Siapakah yang telah menciptakan ini semua?
Siapakah yang telah mengatur alam semesta sehingga tercipta
keteraturan?
Siapakah yang telah mencukupkan nikmatmu?
Jawabannya tentu bukan manusia, bukan?
Manusia itu terbatas, tak bisa berbuat demikian.
Lihat saja diri kita.
Terkena satu bakteri atau virus yang ukurannya sangat kecil
saja, tubuh kita sudah terserang penyakit.
Manusia itu lemah.
Kau tak berhak untuk berjalan angkuh di bumi ini.
Ataupun berlagak sombong di alam manapun.
Hanya Dia-lah, Allah, yang berhak. Karena Dia-lah yang mampu
mencipta.
Duhai diriku…
Sungkurkan dirimu di setiap malam-malam sunyi.
Bermunajatlah.
Apakah engkau mencintai Rabb-Mu?
Apakah engkau telah hidup sesuai dengan perintah-Nya?
Apakah engkau yakin engkau telah memberikan seluruh hidupmu
pada-Nya?
Apakah jawabannya tidak?
Atau belum?
Duhai diriku…
Apalagi yang engkau pinta dari Rabb-Mu?
Bukankah Dia telah memberikan semua yang terbaik untukmu?
Bukankah Dia telah memberikan segala sesuatu yang tidak
dapat diberikan oleh siapapun kepadamu?
Siapa pemberi engkau hidung untuk bernafas?
Siapa pemberi engkau tangan untuk bekerja?
Siapa pemberi engkau kaki untuk melangkah?
Apakah manusia?
Bukan!
Siapa pemberi engkau jantung yang berdetak?
Siapa pemberi engkau hati untuk merasa?
Siapa pemberi engkau mata untuk melihat?
Siapa pemberi engkau telinga untuk mendengar?
Apakah manusia?
Sekali-kali bukan!
Yang memberimu segala sesuatu yang tak bisa diberikan oleh
manusia terkaya sekalipun.
Ia-lah Allah Maha Esa
Maha Kuasa.
Duhai diriku…
Tidak-kah kau mencintai Allah?
Dia telah memberikan engkau nikmat yang sangat berlimpah.
Mengapa engkau tidak mau memenuhi perintah-Nya?
Engkau diperintah untuk menundukkan pandangan,
Menutup aurat, menjauhi zina
Berkata yang benar,
Melarang riba,
Mengharamkan yang haram, menghalalkan yang halal.
Engkau abaikan panggilan-Nya.
Engkau acuhkan seruan utusan-Nya.
Engkau tak peduli terhadap saudaramu sesama muslim.
Engkau tak mau mengemban Islam dalam pundakmu.
Apakah itu yang disebut cinta?
Duhai diriku…
Cinta adalah tentang siapa yang berada pada nomor satu.
Namun, siapakah yang berada di urutan pertama dalam hidup
kita?
Duhai diriku… Mengapa engkau selingkuhi Allah…
- Dwi Ayu Rakhmawati -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar