Bismillahirrahmanirrahim..
Orang bilang dunia nggak hanya selebar daun kelor. Memang. Dunia nggak hanya berkutat sama masalah kita. Sepedih apapun masalah kita, toh dunia masih terus berputar. 24 jam, 7 hari. Siang malam nggak pernah putus. Kecuali nanti akan ada saatnya hari dimana kita dikumpulkan dan dibangkitkan. Hari dimana tidak ada satupun keraguan di dalamnya.
Pernah nggak kalian berpikir, ngapain sih kita di dunia ini? Kenapa kita (manusia) diciptakan? Tentu, di balik hak prerogatif Allah (Sang Pencipta), kita diutus ke muka bumi untuk mengemban sebuah misi. Misinya adalah sebagai pemimpin di muka bumi ini, tugasnya mengelola apa yang ada di permukaan maupun di dalam bumi.
Allah SWT nggak main-main ngasih tugas ini ke kita. Allah SWT dengan seluruh kebaikannya, ngasih kita buku petunjuk/manual instructrion bagi manusia. Kalo kalian biasanya beli gadget tuh, kan suka ada buku petunjuk gimana cara pemakain tuh gadget. Nah, sama disini. Allah SWT ngasih tau kita gimana sih cara hidup di dunia ini. Mau tau bukunya apa? Ehm.. Macam dan bentuk bukunya sih pasti udah pada hapal yak, cuman isi dan maknanya masih suka lupa kita pahami hehe *self toyor*
Yap, bener. Al Qur'an! Berabad-abad tahun yang lalu Allah udah kasih turun ke kita manual instruction. Gimana cara berpakaian, gimana cara bergaul, cara berkomunikasi dengan alam dan manusia, dll. Saking baiknya, Allah ngasih kita (manusia) kelebihan dibanding makhluk-Nya yang lain, yaitu akal. Kebayang ga, Al Qur'an tuh sumber dari segala sumber ilmu di dunia. Mulai dari ilmu pengetahuan alam, sosial, perniagaan, hukum, politik, perkawinan, sampai soal bergaul dengan orang lain juga diatur di dalamnya. Istilahnya Palugada, Apa Lu Mau Gua Ada hahaha.. *intermezzo*
Tapi sayangnya, manusia nggak memanfaatkan keajaiban Al Qur'an. Semua dikendalikan sendiri. Mulai bikin peraturan ke tata negaraan sendiri, bikin undang-undang sampe berpuluh-puluh ayat dan ujung-ujungnya pun kena revisi. Hasilnya? Bukannya bikin negara yang sejahtera dan makmur, justru malah bikin carut-marut. Kriminalitas dimana-mana, kemiskinan, belum lagi KKN, dsb.
Di Indonesia, negara yang katanya punya penduduk muslim terbanyak di dunia ternyata malah nggak menghantarkan rakyatnya menuju kemakmuran. Masih banyak anak nggak sekolah, dan tadi sempet baca artikel tentang anak difabel yang tinggal di panti, mereka cuman dapet "jatah" 2500 perak per hari dari pemerintah. Di hari yang lain, baca artikel pejabat korupsi, sebulan beli 3 mobil mewah. Miriiiiis. Masih sering suka liat tukang angkot keliaran hari jumat jam 11 siang. Rela menukar perintah Tuhannya dengan kejar setoran yang jumlahnya nggak lebih dari 30.000 rupiah dengan dalih mencari nafkah. Nafkah nggak usah dicari, di Indonesia tuh tinggal di hutan aja bisa survive kok. Indonesia ini sangat kaya, saking kayanya sampe ada pepatah mengatakan di negeri ini kalo di lempar batu, muncul pohon. Di lempar pohon muncul hutan, mau cari emas di permukaan bumi ada, di perut bumi juga ada. Cari minyak di lepas pantai banyak, di bawah laut juga banyak. Tapi kenapa kemiskinan terus terjadi di negara yang kaya dengan penduduknya yang mayoritas muslim? Kenapa bisa terjadi? Karena syariat Allah SWT belum ditegakkan.. Karena Al Qur'an belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya bisa bilang itu penyebabnya? Karena Allah sendiri yang bilang, di surah Ar-Ra'd ayat 11..
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka"
Negara yang mayoritas penduduknya bersaksi kalo Allah SWT adalah Tuhannya dan bersaksi kalo Nabi Muhammad adalah utusanNya, tapi nggak direalisasikan ke kehidupan nyata. Melakukan hidup sehari-harinya untuk mencari kenikmatan dunia dengan mengabaikan ridho Allah SWT. Hidup ini penuh hubungan sebab-akibat. Belum lagi westernisasi yang akhirnya mengubah pola pikir manusia sekarang, hal-hal yang dilarang menjadi lumrah sedangkan hal-hal yang diperintahkan menjadi dipandang sebelah mata. Banyak hal yang rancu, tabu, dan kebolak-balik.
Itulah sebabnya, kita sebagai muslim wajib mengkaji Islam dan memeluknya secara kaffah (menyeluruh). Bukannya menerapkan sebagian ayat-Nya, tapi mengabaikan ayat yang lain. Dan, sebagai sesama muslim dan manusia yang hidup di dunia ini harus saling mengingatkan. Mengingatkan ada banyak cara, salah satunya dengan memperbanyak diskusi dan kajian mengenai Islam.
Semoga tulisan ini bermanfaat, khususnya bagi penulis. Bila ada salah kata, mohon dimaafkan.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar