Sesungguhnya orang yang senang dengan kebahagiaan saudaranya sesama muslim, akan merasa bahagia ketika dapat memberikan hartanya kepada saudaranya yang membutuhkan. Sanggup berkorban nyawa jika ada tuntutan yang mendesak, melepaskan kepentingan pribadi demi mewujudkan kepentingan orang banyak, rela hidup sederhana, dan menderita jika hal tersebut dapat merealisasikan kebenaran atau kebaikan. Bahkan, sanggup menelan kepahitan dan menikmati siksaan dan siap menyongsong kematian demi membela petunjuk dan kebenaran yang diyakininya.
Tetapi, adakah contoh manusia seperti ini? Madrasah macam apakah yang mengeluarkannya? Saya bersumpah, satu-satunya madrasah yang dapat melahirkan contoh manusia seperti itu adalah madrasah iman.
Imanlah yang membuat seorang manusia dapat mengendalikan dorongan nafsu dan tuntutan duniawinya. Sehingga, ia merasa cukup dengan makanan yang sekadar dapat menghilangkan rasa lapar dan dengan pakaian yang sekadar dapat menutupi aurat. Ia tetap senang walaupun hanya punya sedikit harta dan rumah yang sederhana. Baginya, harta tidaklah berarti apa-apa, sehingga dengan mudah ia men-shadaqahkan-nya. Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan kediamannya dan tidak pula sulit meninggalkan keluarganya. Bahkan, ia merasa ringan jika harus melepaskan nyawanya.
Sesungguhnya segala bentuk pengorbanan, baik materi, perasaan, jiwa maupun fisik, yang dilakukan oleh seorang mukmin di jalan Allah, sekecil apapun, tetap tercatat dalam pundi-pundi kebaikannya di sisi Allah. Allah SWT tidak akan mengabaikannya walaupun hanya sebesar biji dzarrah. Termasuk langkah-langkah kakinya, sepeser uang yang di-shadaqahkan-nya, dan perasaan lapar, haus, dan lelah yang dialaminya,
Tetapi, adakah contoh manusia seperti ini? Madrasah macam apakah yang mengeluarkannya? Saya bersumpah, satu-satunya madrasah yang dapat melahirkan contoh manusia seperti itu adalah madrasah iman.
Imanlah yang membuat seorang manusia dapat mengendalikan dorongan nafsu dan tuntutan duniawinya. Sehingga, ia merasa cukup dengan makanan yang sekadar dapat menghilangkan rasa lapar dan dengan pakaian yang sekadar dapat menutupi aurat. Ia tetap senang walaupun hanya punya sedikit harta dan rumah yang sederhana. Baginya, harta tidaklah berarti apa-apa, sehingga dengan mudah ia men-shadaqahkan-nya. Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan kediamannya dan tidak pula sulit meninggalkan keluarganya. Bahkan, ia merasa ringan jika harus melepaskan nyawanya.
Sesungguhnya segala bentuk pengorbanan, baik materi, perasaan, jiwa maupun fisik, yang dilakukan oleh seorang mukmin di jalan Allah, sekecil apapun, tetap tercatat dalam pundi-pundi kebaikannya di sisi Allah. Allah SWT tidak akan mengabaikannya walaupun hanya sebesar biji dzarrah. Termasuk langkah-langkah kakinya, sepeser uang yang di-shadaqahkan-nya, dan perasaan lapar, haus, dan lelah yang dialaminya,
"Itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (at-Taubah: 120-121)- Mahmud Al-Mishri dalam Buku '35 Sirah Shahabiyah'-
