Senin, 30 Maret 2015

Sejauh Mana Pengorbanan Seorang Muslim Yang Seharusnya?

Sesungguhnya orang yang senang dengan kebahagiaan saudaranya sesama muslim, akan merasa bahagia ketika dapat memberikan hartanya kepada saudaranya yang membutuhkan. Sanggup berkorban nyawa jika ada tuntutan yang mendesak, melepaskan kepentingan pribadi demi mewujudkan kepentingan orang banyak, rela hidup sederhana, dan menderita jika hal tersebut dapat merealisasikan kebenaran atau kebaikan. Bahkan, sanggup menelan kepahitan dan menikmati siksaan dan siap menyongsong kematian demi membela petunjuk dan kebenaran yang diyakininya.

Tetapi, adakah contoh manusia seperti ini? Madrasah macam apakah yang mengeluarkannya? Saya bersumpah, satu-satunya madrasah yang dapat melahirkan contoh manusia seperti itu adalah madrasah iman.

Imanlah yang membuat seorang manusia dapat mengendalikan dorongan nafsu dan tuntutan duniawinya. Sehingga, ia merasa cukup dengan makanan yang sekadar dapat menghilangkan rasa lapar dan dengan pakaian yang sekadar dapat menutupi aurat. Ia tetap senang walaupun hanya punya sedikit harta dan rumah yang sederhana. Baginya, harta tidaklah berarti apa-apa, sehingga dengan mudah ia men-shadaqahkan-nya. Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan kediamannya dan tidak pula sulit meninggalkan keluarganya. Bahkan, ia merasa ringan jika harus melepaskan nyawanya.

Sesungguhnya segala bentuk pengorbanan, baik materi, perasaan, jiwa maupun fisik, yang dilakukan oleh seorang mukmin di jalan Allah, sekecil apapun, tetap tercatat dalam pundi-pundi kebaikannya di sisi Allah. Allah SWT tidak akan mengabaikannya walaupun hanya sebesar biji dzarrah. Termasuk langkah-langkah kakinya, sepeser uang yang di-shadaqahkan-nya, dan perasaan lapar, haus, dan lelah yang dialaminya,
"Itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (at-Taubah: 120-121)
- Mahmud Al-Mishri dalam Buku '35 Sirah Shahabiyah'-



Minggu, 22 Maret 2015

Duhai Diriku, Mengapa Engkau Selingkuhi Allah?

Duhai diriku…
Bisakah kau menghitung berapa volume oksigen yang telah engkau hirup 
dari engkau lahir hingga saat ini?
Bisakah kau menakar berapa liter air yang telah engkau minum?
Hingga saat ini, sudah berapa juta kali kau mengayunkan kakimu untuk melangkah ke tempat-tempat indah yang kau kagumi keindahannya?
Berapa kali tanganmu bekerja sesuai dengan yang kau perintahkan?
Menulis, memencet nomor telepon, mengambil dan membawa barang
Kau gunakan menggendong anak kecil, menjinjing tas, mengelus tubuhmu yang sakit, 
menggenggam tangan ibumu yang makin berkerut termakan usia
Berapa juta kali kau mengedipkan kedua matamu?
Mata yang memberikan kau pengalaman untuk melihat putihnya awan di langit 
dan birunya air samudra?
Bisakah kau rasakan hembusan angin semilir?

Duhai diriku…
Tahukah engkau, gadget dengan kamera tercanggih yang ditemukan manusia hingga saat ini tak dapat menandingi kemampuan mata dalam melihat objek?
Tahukah engkau, robot tercanggih di dunia yang diciptakan oleh Jepang  untuk menyerupai manusia, apakah berhasil? Tentu tidak.
Tahukah engkau duhai diriku, fisik yang sempurna dan kenikmatan menjalani hidup ini, 
apakah bisa engkau ciptakan sendiri?
Pernahkah engkau melihat bagaimana proses terciptanya satu individu baru?
Atau pernahkah engkau melihat bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
Langit ditinggikan tanpa ada tiang yang menyanggahnya?
Bumi, bulan, dan matahari berada dalam keteraturan tanpa satu inchi pun keluar dari garis orbit

Duhai diriku…
Tanyalah pada dirimu…
Siapakah yang telah menciptakan ini semua?
Siapakah yang telah mengatur alam semesta sehingga tercipta keteraturan?
Siapakah yang telah mencukupkan nikmatmu?

Jawabannya tentu bukan manusia, bukan?
Manusia itu terbatas, tak bisa berbuat demikian.
Lihat saja diri kita.
Terkena satu bakteri atau virus yang ukurannya sangat kecil saja, tubuh kita sudah terserang penyakit.
Manusia itu lemah.
Kau tak berhak untuk berjalan angkuh di bumi ini.
Ataupun berlagak sombong di alam manapun.
Hanya Dia-lah, Allah, yang berhak. Karena Dia-lah yang mampu mencipta.

Duhai diriku…
Sungkurkan dirimu di setiap malam-malam sunyi.
Bermunajatlah.
Apakah engkau mencintai Rabb-Mu?
Apakah engkau telah hidup sesuai dengan perintah-Nya?
Apakah engkau yakin engkau telah memberikan seluruh hidupmu pada-Nya?
Apakah jawabannya tidak?
Atau belum?

Duhai diriku…
Apalagi yang engkau pinta dari Rabb-Mu?
Bukankah Dia telah memberikan semua yang terbaik untukmu?
Bukankah Dia telah memberikan segala sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh siapapun kepadamu?
Siapa pemberi engkau hidung untuk bernafas?
Siapa pemberi engkau tangan untuk bekerja?
Siapa pemberi engkau kaki untuk melangkah?
Apakah manusia?
Bukan!
Siapa pemberi engkau jantung yang berdetak?
Siapa pemberi engkau hati untuk merasa?
Siapa pemberi engkau mata untuk melihat?
Siapa pemberi engkau telinga untuk mendengar?
Apakah manusia?
Sekali-kali bukan!
Yang memberimu segala sesuatu yang tak bisa diberikan oleh manusia terkaya sekalipun.
 Ia-lah Allah Maha Esa Maha Kuasa.

Duhai diriku…
Tidak-kah kau mencintai Allah?
Dia telah memberikan engkau nikmat yang sangat berlimpah.
Mengapa engkau tidak mau memenuhi perintah-Nya?
Engkau diperintah untuk menundukkan pandangan,
Menutup aurat, menjauhi zina
Berkata yang benar,
Melarang riba,
Mengharamkan yang haram, menghalalkan yang halal.
Engkau abaikan panggilan-Nya.
Engkau acuhkan seruan utusan-Nya.
Engkau tak peduli terhadap saudaramu sesama muslim.
Engkau tak mau mengemban Islam dalam pundakmu.
Apakah itu yang disebut cinta?

Duhai diriku…
Cinta adalah tentang siapa yang berada pada nomor satu.
Namun, siapakah yang berada di urutan pertama dalam hidup kita?

Duhai diriku… Mengapa engkau selingkuhi Allah…

- Dwi Ayu Rakhmawati -