Jumat, 13 Desember 2013

Dakwah Ideologis: #2 Dakwah Ideologis, Jalan Kemuliaan

Posisi dakwah dalam Islam sangatlah penting. Ia menyebabkan umat hidup dan terus tumbuh serta berkembang. Dakwah akan menggerakkan umat untuk tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan Allah juga RasulNya. Sebaliknya, ketika dakwah ditinggalkan, umat akan kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim yang harus terikat dengan seluruh aturan Allah. Kaum muslim tidak pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh pada agamanya. Kaum muslim mulai mundur tatkala meninggalkan dan meremehkan ajaran agamanya, membiarkan peradaban asing masuk menyerbu negeri-negeri mereka, serta membiarkan pemikiran dan paham-paham kufur bercokol dalam benak mereka. Untuk mengembalikan kemuliaan muslimin, maka diperlukan dakwah. Bukan hanya sekedar dakwah biasa, tetapi yang membangkitkan kaum muslimin. Itulah dakwah ideologis. Yaitu dakwah yang menyeru kaum muslim untuk menerapkan Islam secara kaaffah (totalitas).

Dakwah ideologis adalah upaya terus menerus untuk merubah manusia baik pikiran, perasaan maupun tingkah lakunya dari jahiliyah (kebodohan) ke Islam, atau dari yang sudah Islam tetapi hanya Islam KTP menjadi Islam yang benar-benar Islam (Islam ideologis yaitu taat kepada seluruh aturan/syariat Islam) hinga terbentuklah masyarakat Islam.

Dakwah ideologis akan menjadikan Islam sebagai rahmat. Allah SWT berfirman
"Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (TQS Al Anbiya (21): 107)
Imam Al Alusiy dalam tafsirnya mengatakan:
Dari ayat di atas,  dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw dengan syariat Islam, hukum-hukum, serta apapun tauladan yang dibawanya merupakan rahmat dan sumber kebahagiaan bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah ideologis harus ditujukan untuk penegakan syariat Islam secara sempurna dalam bingkai sebuah daulah/negara yaitu daulah khilafah.

dikutip dari: Lajnah Tsaqofiyah - Dakwah Ideologis, Jalan Kemuliaan (HTI)

Jumat, 06 Desember 2013

Dakwah Ideologis: #1 Hakikat dan Hukum Dakwah

Menurut bahasa, dakwah berarti mengajak atau menyeru. Sementara secara istilah, dakwah bermakna mengajak dan menyeru manusia ke jalan Alloh (da'watun naas ilallah). Dari makna ini maka aktivitas dakwah bisa difahami sebagai upaya mengajak manusia dari kekafiran kepada keimanan, dari syirik kepada tauhid, dari kesesatan kepada petunjuk, dari kebodohan kepada ilmu, dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari bid'ah kepada sunnah, dari keburukan kepada kebaikan, dan dari kehidupan sekuler kepada penerapan Islam kaffah.

Tidak ada keraguan tentang kewajiban melakukan dakwah. Banyak nash yang menegaskannya, baik di dalam Al Qur'an maupun as sunnah, diantaranya firman Alloh SWT:
"Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" (An Nahl:125)
Diriwayatkan pula di dalam as sunnah
"Dari 'Abdullah bin 'Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (HR. Bukhari) 
"Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan inilah selemah-lemah iman." (HR. Muslim) 
Hadist ini dinyatakan dalam bentuk redaksi syarth-masyruth. Kalimat syarat nya "man ra'a minkum munkaran". Dan jawab syarath nya "fal yughoyyir". Pihak yang diseru (mukhothob). Artinya, setiap muslim yang menyaksikan kemungkaran di hadapannya, secara personal wajib untuk mengingkari atau mengubah kemungkaran dengan salah satu dari 3 cara yang disebutkan dalam hadist tersebut. Kewajiban ini adalah fardhu 'Ain bukan fardhu kifayah.

Selain nash-nash yang berisi perintah berdakwah, terdapat pula nash-nash yang memberi ancaman jika dakwah tidak dilakukan. Diantaranya adalah sabda Rasulullah Saw
"Sesungguhnya Alloh tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Alloh akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh." (HR. Ahmad dan ath-Thabrani).(1)
(1) Al-Husain ibn Mas'ud Al-Farra' Al-Baghawi, Ma'alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub Al-'Ilmiyah, 1993, II/203; penafsiran semakna, lihat 'Ala'uddin Al-Khazin (w. 741 H), Lubab At-Ta'wil fi Ma'an at-Tanzil (Tafsir al-Khazin), Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun, II/

Kemudian sabda Rasulullah Saw:
"Demi dzat yang jiwaku dalam genggamannya, Hendaklah kalian memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran, atau (kalau tidak) Alloh akan menimpakan adzab dari sisinya, lalu kalian berdoa kepadanya maka Ia tidak mengabulkannya" (HR. At Turmudzi)
Berdasarkan dalil-dalil di atas jelas sekali bahwa dakwah merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh orang beriman yang akan mengangkatnya menjadi orang beruntung dan menyelamatkannya dari adzab Alloh SWT.

Posisi dakwah dalam Islam sangatlah penting. Ia menyebabkan umat hidup dan terus tumbuh serta berkembang. Dakwah akan menggerakkan umat untuk tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan Alloh juga RasulNya. Sebaliknya, ketika dakwah ditinggalkan, umat akan kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim yang harus terikat dengan seluruh aturan Alloh. Umat akan terwarnai dengan berbagai pemikiran kufur yang tidak membawa kebaikan sedikitpun melainkan kerusakan, kesesatan dan kehancuran masyarakat Islam.

Kaum muslim tidak pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh pada agamanya. Kaum muslim mulai mundur tatkala meninggalkan dan meremehkan ajaran agamanya, membiarkan peradaban asing masuk menyerbu negeri-negeri mereka, serta membiarkan pemikiran dan paham-paham kufur bercokol dalam benak mereka. Untuk mengembalikan kemuliaan kaum muslimin, maka diperlukan dakwah. Bukan hanya sekedar dakwah biasa tetapi dakwah yang membangkitkan kaum muslim. Itulah dakwah ideologis, yaitu dakwah yang menyeru kaum muslim untuk menerapkan Islam secara kaaffah (totalitas). Dengan kata lain, dakwah ideologis adalah seruan yang membangkitkan manusia sehingga terdorong untuk mengimani kebenaran aqidah Islam dan menerapkan seluruh hukum yang lahir dari aqidah tersebut. Dakwah yang mengajak kaum muslim agar menjadikan Islam menjadi solusi dalam seluruh permasalahan baik yang menimpa individu, keluarga, masyarakat maupun negara, dan dalam seluruh aspek kehidupan baik ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya dan yang lainnya. (bersambung)


dikutip dari: Lajnah Tsaqofiyah - Dakwah Ideologis, Jalan Kemuliaan (HTI)

Minggu, 24 November 2013

Lezatnya Ibadah

"Orang yang akan merasakan lezatnya keimanan adalah orang yang rela Alloh sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul utusan Alloh" 
(HR. Muslim)
Semua penjenguk menatap kasihan bercampur heran. Menyandang sebagai sahabat Nabi, Duta Islam pertama dalam perluasan medan dakwah dan seorang yang ahli dalam fikih, tak seharusnya ia menangis. Ya, saat terbaring sakit menjelang wafatnya, Muadz bin Jabal tersedu. Apakah Muadz meratapi sakitnya? Bukankah dia harus bersabar? Apakah Muadz takut mati? Bukankah dia adalah pasukan pemberani dalam setiap peperangan? Muadz menangis bukan untuk itu. Dia menangis untuk satu hal yang belum pernah terbayang oleh penjenguk, apalagi oleh kita saat ini.

"Aku menangis," ucapnya lirih, "karena aku tidak akan merasakan lagi rasa dahaga (orang yang berpuasa) ketika hari sangat panas, tidak lagi merasakan bangun malam untuk melaksanakan shalat di musim yang dingin dan tidak lagi berdekatan dengan orang-orang yang berilmu saat bersimpuh di halqoh dzikir."

Subhanallah.. Bilakah waktunya kita bisa sampai ke tingkatan Muadz bin Jabal? Saking menikmatinya terhadap ibadah, saat sakaratul maut pun masih merisaukan diri yang akan berpisah dengan sholat malam, dengan puasa, dan dengan majelis dzikir. Itulah Muadz. Sedihnya bukan karena ia akan meninggalkan dunia. Sedihnya adalah karena akan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ibadah itu.

Menghadapkan diri pada Muadz. membuat kita bercermin. Dimanakah ibadah dan ketaatan kepada Alloh itu kita letakkan selama ini? Jangankan sakaratul maut yang semuanya serba gawat dan mengerikan, dalam keadaan sehat pun kadang diri ini "mati rasa" terhadap ibadah-ibadah tersebut. Tak ternikmati. Bahkan merasa terbebani.

Cobalah dirasa-rasa, selama ini ketika berdoa apakah kita menikmati kata demi kata dalam dialog kepada Alloh? Atau malah formalitas ucapan yang meluncur lancar karena sudah hafal di luar kepala. Sementara kosong dari tingginya rasa harap.

Apakah yang membedakan sholat kita dengan mereka? Apakah yang membedakan puasa kita, wirid kita, doa kita dengan mereka? Mari kita menjenguk ke dalam diri. Yang pasti, orang-orang shalih semacam Muadz yang menikmati ibadahnya, mereka beriman sebagaimana Nabi beriman. Mereka berusaha beribadah sebagaimana Nabi beribadah. Mereka berusaha mencintai Alloh di atas segalanya, sebagaimana Nabi melakukannya. Sehingga apabila Nabi pernah bercerita: "Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam sholat." Maka mereka juga mencari kesejukan dalam sholatnya.

Tercapainya seorang hamba terhadap kenikmatan beribadah adalah karunia tak terhingga dari Alloh ta'ala. Kenikmatan ibadah akan membuat seorang hamba semakin kuat keimanannya. Kenikmatan ibadah itulah yang akan menjadi penawar kesedihan. Kenikmatan ibadah itulah yang membuat kita tak berselera terhadap tawaran kemaksiatan. Akan ada cerita, seorang laki-laki menjauhi zina karena tak ingin kehilangan kenikmatan ibadahnya. Akan ada cerita, kenikmatan sholat meredakan amarah seorang muslim yang didzalimi orang lain. Dan cerita-cerita lainnya, dimana mukmin menjadi manusia hebat dan berbeda karena ketakwaan yang telah dinikmatinya.

Saudaraku, kita pasti juga merindukan jiwa yang bisa menikmati sujud dan ketaatan kepada Alloh. Mencapai tingkatan menikmati ibadah adalah impian orang-orang beriman. Ya, apakah Sayyidina Muadz bin Jabal berpikir hanya beliau saja yang berhak merasakan nikmatnya ibadah? Tidak. Sungguh kita juga akan berjuang untuk meraihnya. Insya Alloh..


(dikutip dari Majalah Nurul Hayat)

Selasa, 15 Oktober 2013

Diary - 1

Bismillahirrahmanirrahim..

Orang bilang dunia nggak hanya selebar daun kelor. Memang. Dunia nggak hanya berkutat sama masalah kita. Sepedih apapun masalah kita, toh dunia masih terus berputar. 24 jam, 7 hari. Siang malam nggak pernah putus. Kecuali nanti akan ada saatnya hari dimana kita dikumpulkan dan dibangkitkan. Hari dimana tidak ada satupun keraguan di dalamnya.

Pernah nggak kalian berpikir, ngapain sih kita di dunia ini? Kenapa kita (manusia) diciptakan? Tentu, di balik hak prerogatif Allah (Sang Pencipta), kita diutus ke muka bumi untuk mengemban sebuah misi. Misinya adalah sebagai pemimpin di muka bumi ini, tugasnya mengelola apa yang ada di permukaan maupun di dalam bumi.

Allah SWT nggak main-main ngasih tugas ini ke kita. Allah SWT dengan seluruh kebaikannya, ngasih kita buku petunjuk/manual instructrion bagi manusia. Kalo kalian biasanya beli gadget tuh, kan suka ada buku petunjuk gimana cara pemakain tuh gadget. Nah, sama disini. Allah SWT ngasih tau kita gimana sih cara hidup di dunia ini. Mau tau bukunya apa? Ehm.. Macam dan bentuk bukunya sih pasti udah pada hapal yak, cuman isi dan maknanya masih suka lupa kita pahami hehe *self toyor*

Yap, bener. Al Qur'an! Berabad-abad tahun yang lalu Allah udah kasih turun ke kita manual instruction. Gimana cara berpakaian, gimana cara bergaul, cara berkomunikasi dengan alam dan manusia, dll. Saking baiknya, Allah ngasih kita (manusia) kelebihan dibanding makhluk-Nya yang lain, yaitu akal. Kebayang ga, Al Qur'an tuh sumber dari segala sumber ilmu di dunia. Mulai dari ilmu pengetahuan alam, sosial, perniagaan, hukum, politik, perkawinan, sampai soal bergaul dengan orang lain juga diatur di dalamnya. Istilahnya Palugada, Apa Lu Mau Gua Ada hahaha.. *intermezzo*

Tapi sayangnya, manusia nggak memanfaatkan keajaiban Al Qur'an. Semua dikendalikan sendiri. Mulai bikin peraturan ke tata negaraan sendiri, bikin undang-undang sampe berpuluh-puluh ayat dan ujung-ujungnya pun kena revisi. Hasilnya? Bukannya bikin negara yang sejahtera dan makmur, justru malah bikin carut-marut. Kriminalitas dimana-mana, kemiskinan, belum lagi KKN, dsb.

Di Indonesia, negara yang katanya punya penduduk muslim terbanyak di dunia ternyata malah nggak menghantarkan rakyatnya menuju kemakmuran. Masih banyak anak nggak sekolah, dan tadi sempet baca artikel tentang anak difabel yang tinggal di panti, mereka cuman dapet "jatah" 2500 perak per hari dari pemerintah. Di hari yang lain, baca artikel pejabat korupsi, sebulan beli 3 mobil mewah. Miriiiiis. Masih sering suka liat tukang angkot keliaran hari jumat jam 11 siang. Rela menukar perintah Tuhannya dengan kejar setoran yang jumlahnya nggak lebih dari 30.000 rupiah dengan dalih mencari nafkah. Nafkah nggak usah dicari, di Indonesia tuh tinggal di hutan aja bisa survive kok. Indonesia ini sangat kaya, saking kayanya sampe ada pepatah mengatakan di negeri ini kalo di lempar batu, muncul pohon. Di lempar pohon muncul hutan, mau cari emas di permukaan bumi ada, di perut bumi juga ada. Cari minyak di lepas pantai banyak, di bawah laut juga banyak. Tapi kenapa kemiskinan terus terjadi di negara yang kaya dengan penduduknya yang mayoritas muslim? Kenapa bisa terjadi? Karena syariat Allah SWT belum ditegakkan.. Karena Al Qur'an belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya bisa bilang itu penyebabnya? Karena Allah sendiri yang bilang, di surah Ar-Ra'd ayat 11..

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka"

Negara yang mayoritas penduduknya bersaksi kalo Allah SWT adalah Tuhannya dan bersaksi kalo Nabi Muhammad adalah utusanNya, tapi nggak direalisasikan ke kehidupan nyata. Melakukan hidup sehari-harinya untuk mencari kenikmatan dunia dengan mengabaikan ridho Allah SWT. Hidup ini penuh hubungan sebab-akibat. Belum lagi westernisasi yang akhirnya mengubah pola pikir manusia sekarang, hal-hal yang dilarang menjadi lumrah sedangkan hal-hal yang diperintahkan menjadi  dipandang sebelah mata. Banyak hal yang rancu, tabu, dan kebolak-balik.

Itulah sebabnya, kita sebagai muslim wajib mengkaji Islam dan memeluknya secara kaffah (menyeluruh). Bukannya menerapkan sebagian ayat-Nya, tapi mengabaikan ayat yang lain. Dan, sebagai sesama muslim dan manusia yang hidup di dunia ini harus saling mengingatkan. Mengingatkan ada banyak cara, salah satunya dengan memperbanyak diskusi dan kajian mengenai Islam.
Semoga tulisan ini bermanfaat, khususnya bagi penulis. Bila ada salah kata, mohon dimaafkan.
Wassalam.

Sabtu, 28 September 2013

Berebut Bunda yang Renta

     Sebuah kisah menakjubkan terjadi di sebuah pengadilan. Air mata Hizan al-Fuhaidi bercucuran membasahi janggutnya yang lebat. Karena putusan hakim telah memenangkan seterunya di pengadilan. Seteru yang tak lain adalah saudara kandungnya sendiri.

     Silahkan tebak apa yang telah ia perjuangkan sehingga harus bersaing dengan saudara kandungnya di meja hijau? Silahkan Anda kira-kira apa yang sudah mereka perebutkan di pengadilan? Tanah, rumah, warisan? Ini yang bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka ke pengadilan karena berebut merawat ibu mereka yang sudah renta.

     Mungkin ada yang bertanya, "Mungkin sang ibu punya warisan banyak kali sehingga mereka berdua berebut merawat ibunya agar warisan bisa mereka kuasai?" Tidak! Sang ibu tak memiliki harta sepeser pun. Yang ia punya hanya sebuah cincin timah yang menempel di jemarinya yang telah mengeriput.

     Selama ini sang ibu hidup bersama Hizam di sebuah perkampungan. Hizam yang tiap hari merawat dan menjaga ibunya dengan penuh kasih sayang. Ketika sang ibu telah menua, sang adik yang selama ini tinggal di kota tiba-tiba datang dan mengajak sang ibu tinggal bersamanya. Alasan sang adik juga mulia, ia mengajak sang ibu karena fasilitas kesehatan di kota yang lebih memadai daripada di desa tempat tinggal Hizam.

     Namun Hizam menolak permintaan itu dengan alasan ia masih mampu merawat dan menjaga sang ibu dengan baik. Perseteruan kakak beradik ini pun pada akhirnya berlanjut hingga ke pengadilan. Sidang demi sidang tela dilalui, tapi tak kunjung menemukan titik kesepakatan. Hingga akhirnya hakim meminta agar sang ibu dihadirkan ke pengadilan.

     Kakak beradik ini pun membopong sang ibu yang sudah renta secara bersama-sama ke pengadilan. Sang hakim pun mengajukan pertanyaan padanya tentang siapa yang lebih berhak untuk tinggal bersamanya. Sang ibu pun menjawab, "Dia", sambil menunjuk ke arah Hizam, "adalah mata kananku. Dan dia", sambil menunjuk ke arahnya adiknya Hizam, "adalah mata kiriku." Sang hakim pun berpikir sejenak, kemudian memutuskan yang berhak merawat sang ibu adalah adiknya Hizam, dengan alasan kemaslahatan bagi sang ibu yang telah renta.

     Air mata Hizam pun tak tertahankan. Air mata seorang anak yang sangat ingin mengabdikan dirinya untuk merawat sang ibu yang sudah tua. Air mata penyesalan karena tak diberi kesempatan mendampingi hari tua ibundanya yang sudah tak bertenaga. Air mata yang mulia, air mata yang keluar karena rasa kecewa, merasa tak bisa membuktikan bakti secara nyata.

     Andaikan saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibu tersebut, hanya satu yang akan saya tanya, bagaimana cara ibu mendidik putra-putra ibu sehingga bisa menjadi putra yang begitu cinta kepada bundanya. Bagaimana cara ibu mengajar kedua anak tersebut sehingga keduanya menjadi anak yang penuh bakti kepada ibunya. Di saat di belahan bumi yang lain, panti jompo makin sesak oleh para orang tua yang dirasa merepotkan hidup anaknya. Di saat di belahan bumi yang lain para anak justru merasa tertekan ketika diminta untuk merawat orangtuanya. Masih ada manusia yang begitu sayangnya kepada ibunya, saat di tempat lain kedurhakaan sudah menjadi budaya.

     Ada sebuah cerita menarik. Konon di Jepang pernah ada tradisi membuang anggota keluarga yang sudah renta, yang tidak berdaya, dan sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa ke tengah hutan. Suatu hari ada seorang pemuda yang hendak membuang ibunya yang sudah sangat tua, jompo, dan mulai pikun, sehingga dianggap hanya merepotkan kehidupan sang pemuda tadi. Pemuda itu pun menggendong ibunya yang tak berdaya itu ke tengah hutan. Sepanjang perjalanan menuju tengah hutan, sang ibu memetik ranting-ranting kering dan menjatuhkannya ke tanah. Ketika tiba di tengah hutan yang amat lebat, pemuda itu amat sedih ketika hendak mengucap kalimat perpisahan. Justru sang ibu lah yang merasa tegar dan menenangkan sang anak, "Nak, aku sangat menyayangimu. Hingga saat ini tak berkurang sedikitpun sayangku padamu. Tadi dalam perjalanan aku sudah menandai jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting pohon. Ibu takut kau nanti tersesat saat pulang. Sekarang ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai rumah."

     Mendengar kalimat ibunya, pemuda itu menangis sesenggukan. Ia lantas memeluk ibunya dan menggendongnya kembali ke rumah. Pemuda itu pun dengan ikhlas merawat sang ibu hingga akhir usianya.

-Sebuah tulisan Ahmad Rifa'i Rif'an dalam buku Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati-

Mari Saling Menginspirasi

Daripada bengong, melamun, nggak ngapa-ngapain. Mending ikutan bantu saya cari inspirasi tulisan untuk jadi bahan/media pengingat kita dalam hidup.

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) sanggup menembus jutaan kepala"
-Sayyid Qutb (tokoh pergerakan Mesir)-